Diskripsi Blog

...mintalah bantuan kepada tangan kananmu. Dan lelaki itu membuat tulisan dengan tangannya.

Hutan


Pagi masih buta ketika saya dan dua orang rekan saya bersiap-siap untuk melakukan perjalanan jauh. Kami adalah tim pemeriksa pajak. Hari itu kami ditugaskan untuk melaksanakan pemeriksaan lapangan terhadap salah satu perusahaan kelapa sawit yang berlokasi di Bukit Santuai, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Di lokasi itulah pabrik kelapa sawitnya berada. 

Dari kantor, jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 185 km. Seluruhnya ditempuh dengan jalur darat, 1 jam di jalan aspal plus 4 jam di jalan laterite. Bagi yang tidak familier dengan istilah laterite, akan saya coba sedikit beri gambaran. Laterite adalah tanah liat merah. Tanah tersebut sudah kehilangan kandungan unsur hara dan mengandung banyak batuan kecil yang menyebabkan ia memiliki tingkat kepadatan yang tinggi. Itulah sebabnya laterite sering dipakai sebagai bahan utama pengerasan jalan di kebun kelapa sawit.

Satu jam pertama terasa biasa saja. Maklum, jalur aspal yang menghubungkan kota Sampit dan Pangkalanbun itu sudah puluhan kali kami lalui. Kami ngobrol seperti biasanya. Tidak ada yang menarik. Semua biasa-biasa saja.

Sampai kami berbelok masuk ke kebun sawit. Jalan tanah merah berbatu membuat mobil kami berguncang hebat. Kecepatan terpaksa diturunkan, tekstur tanah yang licin membuat roda seringkali selip, tergelincir dan susah dikemudikan. Kaki harus cekatan bermain kopling dan rem bergantian sebab jalan di sana banyak lubang-lubang yang tak terlihat. Selama 4 jam itu, bagi kami kenangan melaju di atas jalan aspal terasa begitu menyenangkan. Jalan aspal yang semula biasa saja itu menjadi begitu spesial dan dirindukan. 

Memang seperti itulah tabiat manusia. Jika tidak bersyukur, banyak hal kecil yang terlewat di depan mata, yang semula kita anggap biasa. Namun, begitu hal tersebut hilang dari hidup kita, sungguh kita rasakan bagai kehilangan harta yang sangat berharga.

Sepanjang perjalanan di sebelah kiri dan kanan kami hanya ada pohon kelapa sawit. Sebuah pemandangan yang membosankan. Tidak ada bukit, sungai yang mengalir, burung-burung berkicau. Bahkan tidak ada angin. Hanya pohon kelapa sawit yang berbaris kaku dan diam menunggu untuk dipanen. Di mata saya, pohon sawit serupa dengan mesin produksi berbahan bakar pupuk urea.

Empat jam berlalu. Sampailah kami ke guest house Wajib Pajak. Rencananya, kami akan bermalam di sana. Tempat kami menginap ini letaknya berdekatan dengan kantor General Manager. Ada kurang lebih 10 kamar, kami pakai 3 kamar dan menurut keterangan salah seorang staff sisanya full. Kedatangan kami bersamaan dengan adanya tamu dari instansi lain, kalau tidak salah dari Dispenda. 

Setelah shalat dan istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke pabrik kelapa sawit. Sebelum berangkat saya sempat bertanya singkat kepada pak Prim, General Manager:

"Pabriknya dari sini jauh pak?"
"No. Tidak, tidak jauh. Dekat saje."

Begitulah gaya bicara pak Prim. Logatnya campuran antara Inggris, Bahasa Indonesia dan Melayu. Beliau ini sebenarnya orang India yang merantau ke Malaysia. Sebelumnya ia bekerja di perusahaan sawit milik pengusaha Sri Lanka di Malaysia, dimutasi ke Papua Nugini dan akhirnya sekarang dipercaya sebagai General Manager di Kalimantan Tengah.

Jawaban "No. Tidak, tidak jauh. Dekat saja." yang semula membawa kabar gembira bagi kaki saya yang kelelahan setelah setengah harian menginjak pedal kopling, rem dan gas ternyata hanyalah harapan palsu. Perjalanan dari guest house ke pabrik ditempuh dalam waktu 2 jam. Aspal? Tentu tidak. Perjalanan kami masih berlanjut di atas laterite dan batu!

Kurang lebih pukul 4.00 sore kami mulai memasuki area pabrik. 5 menit sebelum masuk area tersebut, dari kejauhan yang tampak hanyalah kepulan asap berwarna putih yang keluar dari cerobong pabrik. Polusi hasil pembakaran buah kelapa sawit itu membumbung tinggi bersatu dengan awan yang sejuk dan angin yang dingin. Tetesan air mulai menerpa kaca depan mobil kami. Sore itu gerimis.

Kami lakukan tugas kami, berkas-berkas wawancara kami keluarkan. Proses produksi CPO dan Kernel kami ikuti alurnya dari awal hingga akhir, dari sortasi kualitas buah, sampai masuk ke bak penampungan. Kami catat seluruh poin-poin penting. Seluruh kegiatan BAPK dan pengujian lapangan kami lakukan kurang lebih sampai pukul 6.00 sore.

Singkat cerita, selepas isya kami sudah kembali ke guest house untuk makan malam dan istirahat. Hari itu sangat melelahkan bagi saya. Telapak kaki kiri saya hampir-hampir mati rasa. Saya coba berbaring di atas kasur, tetapi saya terlalu lelah untuk tertidur. Di tengah kegundahan saya itu, saya teringat kampung halaman.

Saya berasal dari desa kecil di Wonogiri, Jawa Tengah. Di sana tempatnya dingin. Masih banyak hutan yang merupakan rumah bagi segala binatang dan pepohonan. 'Wono' sendiri berarti hutan, sedangkan 'Giri' berarti gunung. Sesuai dengan kondisi alamnya yang berisi hutan dan gunung-gunung.

Tiap pagi, hawa begitu dingin. Angin membawa kesejukan sisa percumbuannya dengan embun subuh. Ketika matahari terbit, para petani berduyun-duyun pergi ke sawah untuk mencari penghidupan, langsung dari pangkuan alam yang asri.

Di malam hari, suara jangkrik, aliran sungai dan burung hantu menambah syahdu suasana. Di Wonogiri, dengan segelas kopi, buku dan suasana malam semacam itu, di teras rumah orang-orang dapat dengan mudah menemukan kedamaian. 

Sebuah kondisi solitude, dimana pikiran bebas merdeka dari pikiran-pikiran orang lain. Being alone, sendirian, tetapi terhubung ke segala sesuatu. Sunyi. Tetapi seperti guru saya pernah bilang: hanya dengan kesunyianlah kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian. Kampung halaman saya bagaikan surga yang dirindukan.

Mengingat itu semua, saya terbangun dari ranjang. Segera saya ke dapur untuk bikin kopi, dan keluar ke teras guest house berharap mendapatkan suasana yang sama dengan yang pernah saya rasakan di kampung halaman. Paling tidak, dapat sedikit mengobati kerinduan saya. Pintu pun saya buka.

Begitu pintu saya buka, tidak ada apa-apa. Hening. Benar-benar tidak ada suara apa pun. Seolah-olah hanya saya satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di dunia. 

Namun anehnya, bukan solitude yang saya rasakan. Bukan kedamaian seperti yang saya idam-idamkan. Bukan being alone, tetapi murni loneliness. Saya benar-benar kesepian malam itu. 

Di pulau Kalimantan, pulau yang katanya memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia sehingga dijuluki paru-paru dunia itu, di tengah malamnya yang sepi, samasekali tidak terdengar suara jangkrik, aliran air dan burung hantu. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah bayangan hitam pohon sawit dan kegelapan yang pekat. Saat itu, tepat pada momen itu saya tidak lagi dapat membedakan gelap yang saya lihat itu berasal dari bayangan pohon sawit ataukah berasal dari imajinasi saya tentang masa depan negeri ini jika jangkrik dan burungnya tak lagi terdengar, airnya tak lagi mengalir dan pikiran manusianya tidak bebas merdeka. 

Related Posts

There is no other posts in this category.